Sejuta Umat Mendukung

| Gerakan Gotong Royong #MuslimKuasaiMedia

F.A.Q. Gerakan Sejuta Umat Gotong Royong Untuk Media

5. Mengapa memilih bentuk perusahaannya adalah koperasi?

Perusahaan Pers yang mengusung konsep gotong royong jelas bentuknya adalah KOPERASI.

Koperasi adalah badan hukum kumpulan orang yang satu tujuan, bukan kumpulan Modal. Orang diakui bukan seberapa besar modalnya, tapi SETARA kedudukannya. Dan badan hukum Perusahaan Pers yang berbentuk Koperasi ini diakui UU Pers. Dari semangat UU Pers, Koperasi lah lembaga yang paling sesuai sebagai badan hukum perusahaan Pers.

Kita memilih Koperasi sebagai badan hukumnya, bukan PT, karena khawatir seperti media-media yang dulunya dilahirkan untuk memperjuangkan Islam, namun kemudian sahamnya jatuh ke tangan pemodal.

PT dibangun berdasarkan modal. Jika media itu kolaps, siapapun bisa membelinya. Ini terjadi di media-media sekarang. Para konglomerat, yang saat ini juga sebagian besar berkecimpung di dunia politik dengan sangat mudah membeli media itu. Hal ini tidak akan terjadi di badan hukum Koperasi yang merupakan usaha milik bersama umat.

Kita menyusun strategi ‘bottom up’ dengan menghimpun kekuatan umat untuk memiliki perusahaan pers. Dengan Koperasi ini, umat lah yang menjadi anggota sekaligus menjadi konsumen.

Ada tiga keuntungan saat perusahaan pers kita berbadan hukum koperasi.

Pertama, untuk mengkapitalisasi modal umat.

Jika mengacu UU 25/1992 tentang Perkoperasian, yang menggunakan sistem simpanan maka akan terjadi kapitalisasi modal yang luar biasa secara gotong royong terus menerus dengan bertambahnya anggota (yang juga konsumen media). Hal ini tidak bisa dilakukan oleh PT, karena jika PT menggalang dana dari masyarakat secara rutin untuk penambaham modalnya, tidak dibenarkan secara perundangan. PT hanya bisa menggalan dana melalu right issue, atau penambaham jumlah saham.

Sebagai simulasi, anggaplah anggota awal koperasi berjumlah 10.000 orang dan Simpanan Pokok (yang ini dilakukan hanya sekali) Rp 200 ribu per orang. Maka diawal berdirinya koperasi telah terkumpul dana sebesar Rp 2 Miliar. Inilah modal awal kita untuk membangun perusahaan pers.

Lalu dilanjut dengan Simpanan Wajib bulanan misalkan Rp 30.000 saja per bulan, dikali 10.000 anggota akan terkumpul Rp 300 Juta per bulan. Simpanan Wajib inilah yang akan mendanai operasional media kita setiap bulan secara terus menerus, sampai perusahaan bisa mendapatkan income.

Bayangkan jika kita bisa meyakinkan lebih banyak umat untuk bergotong royong, misal 100 ribu orang, maka berlipatlah kekuatan kapitalisasinya. Mungkin Republika pun bisa dipikirkan untuk diakuisisi.

Bandingkan dengan jika kita urunan untuk mengakuisisi media yang sudah ada. Mengumpulkan uang Rp 50 Miliar itu mudah. Akan tetapi uang itu akan habis setelah beberapa waktu untuk operasional. Kalau seperti itu bagaimana bisa melanjutkan penguasaan media?

Dengan adanya dana operasional yang rutin diterima dan berkelanjutan, kita bisa menggaji para jurnalis yang kompeten agar idealismenya tidak terjual sehingga menghasilkan berita-berita bermutu dan bermanfaat untuk kemaslahatan umat.

Kedua, bisa menjadikan anggotanya konsumen media.

Media hidup dari pembaca, viewer, pendengar maupun pemirsanya. Dengan perusahan pers berbentuk koperasi, kita sekaligus memiliki konsumen media yang loyal, yang akan menaikan oplah (istilah cetak) atau hit/visit (istilah online), atau rating (istilah penyiaran). Konsumen media loyal tersebut adalah anggota Koperasi itu sendiri. Karena setiap anggota adalah pemiliki media, tentu akan secara sukarela mengajak orang lain menjadi konsumen media juga.

Dengan bentuk Koperasi kita akan punya pangsa pasar/pembaca yang jelas. Saat Koperasi didirikan, bukan hanya dana berupa Simpanan Pokok atau Simpanan Wajib saja yang akan kita peroleh tapi juga konsumen media loyal. Konsumen media yang loyal akan berpotensi pada pendapatan perusahan pers, seperti iklan. Pada media berbentuk portal, makin banyak pengunjung portal maka makin besar kemungkinan mengKlik iklan dan memperbesar peluang meningkatkan pemasukan.

Dana yang diperoleh dari iklan inilah yang akan digunakan untuk meningkatkan kualitas media kita, dan pada akhirnya jika income Koperasi sudah membesar, akan menjadi income juga bagi anggota Koperasi dalam bentuk SHU (Sisa Hasil Usaha). Sebuah mimpi yang ingin kita wujudkan, dan itu hanya bisa terwujud jika kita berGOTONG ROYONG, berKOPERASI.

Ketiga, membangun jaringan pewarta dan penyebar berita.

Anggota koperasi yang tersebar di seluruh Indonesia selain menjadi konsumen media juga sekaligus dapat berperan membentuk jaringan pewarta berita (Citizen Jurnalism). Sebagai contoh bila terjadi sebuah peristiwa di suatu daerah, kita bisa melakukan investigasi yang dilakukan anggota koperasi terdekat di daerah tersebut. Berita itu yang kemudian akan menyebar secara serempak untuk meluruskan opini publik, membungkam framing yang diciptakan media mainstream yang mendiskreditkan Islam.

Kita pun bisa memangkas biaya marketing dalam memperkenalkan media ke publik karena anggota kita yang ribuan akan langsung bisa me”WOM” kan setiap berita yang diluncurkan media. Efek horizontalnya akan dahsyat. Inilah kekuatan kita.

Dengan tiga keuntungan di atas, pada masanya jika Koperasi sudah profitable maka nilai SHU tahunan akan lebjh besar dari Simpanan Wajib anggota tiap bulan.

Sejuta Umat Mendukung © 2016 Frontier Theme