Sejuta Umat Mendukung

| Gerakan Gotong Royong #MuslimKuasaiMedia

Mengapa Memilih Bentuk Koperasi

gandengtanganPada kesempatan kali ini saya akan mencoba menjelaskan kenapa akhirnya Gerakan #SejutaUmatGotongRoyong4Media atau dikenal juga dengan Gerakan Media Umat, memilih Koperasi sebagai bentuk badan hukum Perusahaan Pers, bukan Perseroan Terbatas atau PT. Pertanyaan seperti ini masih sering muncul, bukan saja dari pendukung gerakan yang baru bergabung tapi juga yang telah bergabung di group-group Pengurus Provinsi Gerakan Media Umat.

Kali ini, saya tidak akan menjelaskan dari sisi perbedaan badan hukum PT dengan Koperasi (sila baca disini), tapi akan coba memperlihatkan bagaimana kuat dan sangat besar peluang Muslim menguasai media jika badan hukum Perusahaan Pers adalah Koperasi, di negeri mayoritas Muslim ini.

Mahalnya Membangun dan Mengelola Perusahaan Pers

Membangun media dan mengelolanya termasuk jenis usaha yang berbiaya mahal dan butuh permodalan yang tidak sedikit. Walau saat ini ada teknologi Internet yang memungkinkan membangun media lebih murah melalui Portal berita, tapi biaya operasional sebuah Perusahaan Pers nyaris tidak bisa ditekan, khususnya dalam pembiayaan Jurnalis dan kerja-kerja keredaksian.

Sebuah Portal berita, tetap saja butuh redaksi dan jurnalis yang bekerja dilapangan, sama dengan media cetak, elektronik dan lainnya. Pekerja media, layaknya pekerja dibidang lain, juga harus digaji sesuai UMK, minimal. Dan jika kita membangun Portal Media resmi, media yang bekerja secara profesional, tentu harus memproduksi berita sendiri, bukan hanya main kutip dan “curi” karya jurnalis media lain.

Dengan target membuat Portal Media Nasional, maka setidaknya kita butuh Jurnalis dilapangan yang memadai, baik sisi jumlah maupun kompetensinya. Anggaplah dibutuhkan 10 orang Jurnalis saja untuk tahap awal, yang ditempatkan di Jakarta, Surabaya, Jogja, Bandung, Semarang, Medan dan Makassar, sebagai kota utama. Dari 10 orang jurnalis saja sudah terlihat kebutuhan untuk membiayai gajinya, minimal 30-50 juta perbulan harus disiapkan. Tentu kita masih bisa terima berita dari jurnalis yang kerja sukarela atau dari citizen jurnalism, tapi untuk investigasi dan berita-berita lain tetap saja dibutuhkan Jurnalis Profesional.

Itu baru dari sisi Jurnalis di lapangan, bagaimana dengan Redaksi? editor dan awak media yang bekerja di belakang meja? Bagaimana dengan tim IT Support yang menjaga kehandalan server, yang menjaga sistem dan yang mempublikasikan berita? Belum lagi tim lain yang urusi administrasi, marketing, dan lain sebagainya. Juga kebutuhan sewa kantor, sarana-prasarana kantor, hosting, akses, dan segala macam tetek bengek lainnya, yang semuanya tentu membutuhkan dana.

Biaya tersebut akan terus meningkat dengan semakin besarnya Portal yang dikelola. Semakin banyak berita yang diterbitkan bahkan semakin dikenal luas oleh masyarakat, makin banyak tuntutan konsumen media, maka overhead pun makin besar.

Lantas dari mana dana untuk menutupi biaya-biaya itu? Jika kita tidak punya, pasti hanya dalam waktu sekejap, terlindas oleh media mainstream yang sudah lama eksis. Jika itu terjadi, punahlah cita-cita Muslim Menguasai Media.

Biaya Besar, Pemasukan Minim

Sebuah Portal berita, nyaris keseluruhan pemasukannya hanya mengandalkan Iklan. Dalam dunia Intenet, iklan yang paling besar dan mungkin didapat adalah iklan berbasis Adsense, miliknya Google (walau ada perusahaan advertise internet lain, tapi kecil). Melalui iklan Adsense inilah para pengiklan menitipkan produknya untuk diiklankan lewat system yang dikelola oleh Google untuk ditampilkan dalam sebuah web atau portal.

Teknologi pemilihan web/portal yang akan menampilkan iklan adsense secara garis besar adalah berbasis besarnya jumlah kunjungan (visit) ke suatu Portal atau dengan kata lain, banyaknya pembaca berita suatu Portal.

Makin tinggi visit atau traffic suatu Portal, maka makin besar kemungkinan suatu iklan Adsense muncul. Dan jika iklan Adsense muncul maka makin besar kemungkinan iklan itu diklik. Klik atas iklan inilah yang akan menghasilkan income dari suatu Portal.

Selain iklan berbasis Adsense tersebut, juga masih ada iklan tradisional yang bisa dimanfaatkan untuk income suatu Portal. Namun sebuah perusahaan yang ingin mengiklankan produknya disuatu portal, tetap saja mempertimbangkan seberapa besar pembaca dari suatu Portal, seberapa besar jumlah visit dari suatu Portal. Jika visitnya rendah, trafick rendah, konsumen medianya kecil, tentu perusahaan pengiklan akan pikir-pikir mengiklankan produknya.

Bagi Portal yang masih baru, tentu jumlah visitnya akan kecil sekali, karena konsumen medianya belum terbentuk. Dibutuhkan kerja keras marketing untuk memperkenalkan Portal tersebut, dan meyakinkan konsumen media untuk membaca produk jurnalismenya.

Mempromosikan dan meyakinkan konsumen media ini juga butuh biaya yang tidak sedikit. Butuh promosi besar-besaran dengan biaya yang mahal.

Lantas apa solusinya ?

Dengan Koperasi Terjawab Semua Persoalan

Melalui bentuk usaha Koperasi, kedua masalah diatas; biaya operasional dan trafik tinggi atau pembaca loyal yang besar, dapat diatasi. Kedua masalah tersebut akan sulit diatasi oleh Perusahaan Pers dengan bentuk PT yang hanya berupa kumpulan modal, bukan kumpulan orang, kecuali memiliki modal besar dan tidak terbatas.

Koperasi yang berbasis kumpulan orang, dengan kewajiban menyetor Simpanan Wajib (SW) setiap bulan, akan mendapatkan modal untuk menutupi biaya operasional Perusahaan Pers setiap bulan.

Dalam Koperasi Media Milik Umat yang kita gagas, besaran SW telah disepekati Rp30.000/bulan. Bayangkan saat nanti Koperasi ini berdiri dan memiliki anggota 10.000 orang atau 100.000 orang, atau bahkan  1 juta orang. Akan cukup dana yang terkapitalisasi untuk membiayai Jurnalis kita bekerja dengan profesional. Akan cukup dana secara rutin setiap bulan untuk menutupi overhead Perusahaan Pers untuk dapat bersaing dengan media-media mainstream lainnya.

Anggaplah misal, anggota Koperasi saat pendirian ada 10.000 orang (dari 180 juta Muslim di Indonesia, angka ini sangat sedikit sekali). Dengan 10.000 anggota tersebut akan terkapitalisasi modal sebesar Rp300 juta setiap bulan. Sangat cukup untuk membiaya sebuah Portal, dengan beberapa kantor biro di Indonesia dan belasan Jurnalis profesional.

Dan dengan 10.000 anggota tersebut, selain mendapatkan kapitalisasi modal yang cukup besar, secara langsung dan pasti, Portal juga dapatkan konsumen media yang loyal, tanpa keluarkan biaya promosi sepeserpun.

Anggota yang berjumlah 10.000 orang tersebut akan jadi pembaca loyal setiap berita diterbitkan. Dan 10.000 anggota tersebut akan menjadi traffic yang besar bagi Portal. Jika 10.000 anggota tersebut juga jadi buzzer, yang menyebarkan berita dari Portal milik Koperasi tersebut ke seluruh kontaknya, ke semua jejaring sosial media, bayangkan apa yang terjadi? Wuzh- wuzh akan selalu viral berita-berita yang kita produksi !!

Tanpa perlu promosi, tanpa perlu keluarkan biaya iklan, Koperasi langsung punya konsumen media loyal sebanyak 10.000 orang, dimana konsumen itu juga pemilik Portal yang akan selalu mendanai setiap bulan.

Dengan cara ini, traffic Portal akan terus tumbuh, dan kemungkinan besar iklan pun akan mengalir. Pemasukan iklan dari Adsense maupun iklan tradisional akan terus berkembang dan ujungnya Perusahaan pun nanti akan memiliki income yang besarnya bisa jadi melampaui Simpanan Wajib yang disetor anggota tiap bulan. Jika saat itu tiba, maka anggota yang saat ini telah mempelopori lahirnya Koperasi Media Milik Umat ini, tentu akan mendapatkan “ganjaran” nya, yaitu Sisa Hasil Usaha (SHU) yang akan menambah tabungan anggota semua, passive income, karena kerelaan “menabung” Rp30.000/bulan untuk perjuangan Umat Menguasai Media.

Inilah keuntungan Perusahaan Pers dalam bentuk Koperasi. Sekali dayung dua, tiga, pulau terlampaui. Dunia dapat, akhirat pun diraih !!

Jadi mau tunggu apa lagi, mau wait and see apa lagi?

Segeralah bergabung dengan mengisi form disini

7 Comments

Add a Comment
  1. Setuju bangat dan penjelasan pa Fery Koto semakin memantapkan hati saya untuk gabung menjadi pendiri dan segera setor SWP…

  2. Setuju dan segera setor SWP

  3. Halim Mohamad Lahdji

    Wah . Hebat sekali cara berpikirnya dan setuju sekali bahwa koperasilah yg tepat dan ini pemiliran jenius.sebenarnya islam indonesia memiliki kesempatan unt membuktikan pada dunia internayional bahwa kami ini bisa berkiprah juga dan juga dapat bersuara dgn jujur dan santun. Sy yakin bahwa koperasi inilah yg dapat membangkitkan semua sektor baik bisnis maupun sosial

  4. Bismillah. In sya Allah saya gabung

  5. saya ada tulis artikel di tahun 2013 mengenai memajukan koperasi. Singkatnya: konsepnya koperasi untuk beli kebutuhan sehari-hari anggotanya, dan sisa hasil usaha bisa untuk beli perusahaan produsen kebutuhan sehari-hari dan bantu petani / peternak. Mereka lebih untung jika ada penyertaan modal, ketimbang pinjam uang ke bank.

  6. Setuju.. Islam harus menguasai media.. Koperasi gotong royong sangat cocok.. Insyaallah saya siap gabung.. MAJU TERUS PANTANG MUNDUR..

  7. Agus Hazairin

    AlhamduLILLAH..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sejuta Umat Mendukung © 2016 Frontier Theme