Sejuta Umat Mendukung

| Gerakan Gotong Royong #MuslimKuasaiMedia

Talkshow Gerakan Media Umat di Radio Suara Muslim

Talkshow Gerakan Media Umat di Radio
Saatnya Memiliki Media yang Mencerdaskan

talk-show-radio-suara-muslimDari kiri ke kanan: Muhammad Nashir, Wirawan Dwi, Fajar Arifianto

Framing yang dilakukan oleh media saat meliput Aksi Bela Islam di Jakarta beberapa waktu lalu memang menarik untuk dibahas. Senin, (17/10), Gerakan Media Umat Jawa Timur diundang talk show di Radio Suara Muslim Surabaya, 93,8 FM.

Talk show di radio saat itu menghadirkan Wirawan Dwi, Ketua Gerakan Media Ummat Jawa Timur dan Fajar Arifianto, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) dengan dipandu oleh Muhammad Nashir sebagai penyiar.

Dalam diskusi tersebut, Wirawan bercerita tentang awal gerakan ini berdiri. Gerakan ini digaungkan 6 Juli 2016 lalu saat Idhul Fitri, 1 Syawal 1437 H lalu. Saat seharusnya umat Islam bergembira, media memframing berita idhul fitri dengan liputan sampah. “Kita memang tidak bisa memprotes kebijakan media. Yang bisa kita lakukan adalah memikirkan bagaimana kita bisa menguasai media,” tegasnya. Karena itulah lahir gerakan ini, gerakan gotong royong untuk media. ”Kami menyebutnya media ummat,” ujar Wirawan.

Selama ini, menurutnya, media membentuk opini negatif kepada umat Islam. “Fakta yang diberitakan dipilah dan dipilih. Yang sering kita temui misalnya, saat teman-teman media memberitakan penggerebekan terduga teroris, apa gambar yang diambil? Al Quran, kaligrafi, buku-buku Islam, dan sebagainya. Seolah-olah Al Qur’an dan seterusnya ini pemicu aktivitas terorisme,” katanya. Dalam peristiwa Aksi Bela Islam yang dilakukan berbagai ormas Islam di Jakarta beberapa waktu lain misalnya, media ternyata lebih tertarik dengan taman yang rusak, daripada tertibnya para demonstran, daripada konten yang diusung tentang penistaan agama itu sendiri. “Saatnya kita memiliki media, yang bisa menampung kebaikan-kebaikan kita yang terabaikan oleh media yang lain,” tegasnya.

Fajar Arifianto, dosen komunikasi yang pernah menjadi regulator di KPI Pusat ini juga mengamini. “Media massa mengkonstruksi apa yang ingin disampaikan sesuai dengan kepentingan medianya,” katanya. “Kita tidak mungkin menyalahkan media itu, namun yang harus kita cermati adalah bagaimana masyarakat juga cerdas untuk memilih media mana yang baik,” katanya. Karena, siaran itu disiarkan kepada masyarakat luas. “Jika ada tayangan atau gambar yang membuat nilai-nilai Islam ter-downgrade, kita harus cermat dan kritis meskipun itu kepada siaran berita sekalipun,” ujar Fajar.

Media seharusnya faktual, akurat, berimbang, proporsional dan memberikan dampak yang baik untuk masyarakat. “Sepuluh tahun lalu, mungkin media masih seperti itu, namun hari ini, kita memang harus lebih kritis dan cerdas mengonsumsinya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wirawan menjelaskan tentang bagaimana Gerakan Media Ummat bekerja. Gerakan ini, kata Wirawan, adalah gerakan real, yang bercita-cita mewujudkan media mainstream berskala nasional yang dikelola secara profesional. “Jika Rasulullah saat hijrah dulu meminta umat Islam membuat pasar menyaingi pasar Yahudi, itu yang akan kita lakukan saat ini. Kita akan membuat media menandingi media yang ada. Kita akan bersaing nilai di sana. Kita akan buktikan nilai-nilai kita lebih baik,” jelas pria 34 tahun itu. Sampai saat ini, gerakan ini sudah mengumpulkan lebih dari 11.000 dukungan dari hampir seluruh propinsi di Indonesia. “Silakan pantau kami di sejutaumatmendukung.org, up date kami ada di sana,” jelasnya.

Siaran ini, menuai dukungan dari pendengar Radio Suara Muslim itu. Laila salah satu pendengar mengatakan, “Saya prihatin jika kita tidak punya media. Media bisa membuat hitam jadi putih, putih jadi hitam. Saya berharap media ini bisa terwujud. Sosialisasinya yang harus digencarkan lagi untuk gerakan ini. ”

“Saya setuju untuk aksi nyata memperbaiki media. Karena media, dengan alibi kebebasan bisa memberitakan apapun,” kata Andi salah satu pendengar yang merespon melalui telepon.

Dalam penutupnya, Fajar mengingatkan bahwa media selalu menggoda masyarakat, tinggal masyarakatnya seperti apa, tergoda apa tidak. “Masyarakat bisa memilih mematikan media itu, atau memilih media yang lain. Sekarang saatnya kendali media di tangan masyarakat,” tegasnya.

“Kita tidak bosan-bosannya meminta dukungan kepada masyarakat untuk mendukung gerakan kami. Silakan kunjungi website sejutaumatmendukung.org,” tutup Wirawan.{}

* Liputan oleh Wirawan Dwi, Ketua Pengurus Daerah #MediaUmat JATIM.

=============

Dengan ditemani secangkir kopi dan biskuit, mari bersama menyimak rekaman audio Bincang Pagi Editorial.

[Saatnya Memiliki Media yang Mencerdaskan]

1 Comment

Add a Comment
  1. Sangat setuju sekali. Minimal kita punya satu media nasional yg bisa mewakili dan mempresemtasikan media-media islam yg berserakan kecil-kecil tanpa power. Besarkan saja satu media islam yg sdh ada misalnya mqtv, tv9, tvmu, rojatv atau yg lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sejuta Umat Mendukung © 2016 Frontier Theme